A manager is responsible for the application and performance of knowledge (Peter Drucker) | www.management-update.org  
   
   | Beranda | Publisher | Editors | Login | Subscribed | RSS Feed | Twitter | Facebook | 21 October 2018
   
   
   
      Register | Forget Password

  Username : Password :
     
   


   
       HOME EDITORIAL HEADLINE DEPARTMENT REGULAR SUBSCRIPTION ARCHIVE    
   
 
  • Cyb3r001

    uploads/slide/sd.jpg

    Hacked By Cyb3r001 was here

 
 
BUDI SETIADHARMA (Presiden Komisaris Astra International)

PETINGGI YANG SELALU MERENDAH

“Saya paling tidak suka diperlakukan khusus
di mana pun, oleh siapa pun”.

 

Tamu adalah raja, tentu kita sudah memahami itu. Apalagi jika tamu tersebut merupakan salah satu orang paling penting di sebuah perusahaan besar yang menjadi aset negara, yaitu PT Astra
International Tbk. Maka, ketika akhirnya permohonan wawancara Forum Manajemen dengan Bapak Budi Setiadharma disetujui dan diputuskan bahwa kantor redaksi FM sebagai  meeting point,  kami sempat khawatir soal bagaimana memberikan pelayanan yang layak bagi mantan Direktur  Utama  yang  kini  menjabat sebagai Presiden Komisaris tersebut.

Hingga pada akhirnya, kami pun menyadari bahwa semua kekhawatiran kami adalah sesuatu yang berlebihan. Tanpa red carpet, tanpa ruangan ber-AC, tiada pula sajian khusus di meja kecuali teh manis hangat, Budi menolak ajakan kami ke ruang  meeting yang memang sudah kami persiapkan. Beliaulah yang pada  akhirnya  ‘memaksa’  kami  untuk melakukan wawancara di sofa sederhana yang terletak di sebuah Lobi Kampus di bilangan Cilandak, Jakarta Selatan.

Membumi

Untuk  ukuran  pria  yang  lahir  pada 26  Februari  1944  lalu  di  Solo,  Budi terlihat begitu segar.  Mengenakan batik lengan panjang berwarna biru cerah, serta wajahnya yang selalu tersenyum,
membuat penampakan ayah dari 2 putra ini begitu bersahabat. Tidak sedikitpun dari dirinya yang memperlihatkan kesan high profle. “Saya memang paling tidak suka diperlakukan khusus dimanapun, dan oleh siapapun. Seringkali orang yang tahu saya sebagai  Preskom  Astra  akan  membuat perlakuan khusus, seperti misalnya menyediakan jalur tersendiri di sebuah resepsi pernikahan,  risih saya.

Mending saya memilih antri bersama tamu-tamu undangan yang lain,” ceritanya.Walaupun, dari pengalaman mengantri ini Budi kerap mendapatkan kesan yang kurang mengenakkan, seperti ritual yang terlalu lama, atau mempelai yang datang terlambat sehingga membuat jadwal semakin molor, dan sebagainya, itu semua tidak membuatnya jera. Buat beliau, hal tersebut justru malah
melahirkan inspirasi.Hal  yang  tidak  lazim  Budi  lakukan beberapa waktu lalu, ketika beliau
menyelenggarakan pernikahan salah satu putranya. Bersama mempelai dan besan, beliau meminta untuk ditempatkan di depan pintu utama untuk menunggu tamu yang hadir.

“Jadi, setengah jam sebelum tamu berdatangan saya sudah siap berdiri di pintu untuk menyambut mereka. Ini saya lakukan agar orang-orang yang datang itu merasa dihormati.   Toh, bukankah kita juga yang mengundang mereka dengan teramat sangat. Kejadian yang sempat menjadi
trending topic tersebut kian mempertegas Budi Setiadharma yang dikenal banyak orang sebagai sosok yang low profle.Pantang Zona Nyaman Sebagian orang mungkin beranggapan bahwa masa pensiun adalah waktunya bersenang-senang dengan hanya mengisi waktu di rumah bersama orang-orang terdekat. Tetapi buat Budi, yang membedakan antara masa aktifnya di Astra dengan sekarang hanyalah masalah tempatnya beraktivitas.

“Soal waktu sama saja, keluar pagi pulang malam,” candanya.Budi pun bercerita soal investasi
kecil-kecilan dengan teman-teman beliau membuat  sparepart sepeda motor. Ada juga bisnis telekomunikasi yang benar-benar berbeda dengan pengalaman sebelumnya. “Saya juga diminta oleh beberapa teman untuk menjadi komisaris di perusahaan mereka. Inilah yang membuat jadwal saya selalu penuh. Jadi tetap tidak bisa enak-enakan,” ungkapnya. Selain itu, Budi memang sepertinya sengaja untuk menghindari waktunya diisi dengan terlalu lama bersantai karena takut akan ber-efek buruk bagi kesehatannya.

“Saya kuatir cepat pikun. Awal  tahun  depan  usia  saya  sudah  70 tahun. Saya harus selalu mengusahakan untuk bisa tetap  sharing dengan teman-teman,” kata pria yang dikenal sebagai
sosok dengan jiwa sosial tinggi ini.

Bimbing Sang Anak

Setelah tidak lagi menjabat sebagai CEO  di  Astra,  dan  hanya  sebagai Chairman, Sarjana Hukum lulusan Universitas Katolik Parahyangan Bandung ini memiliki lebih banyak waktu untuk
membimbing anak-anaknya dalam soal pekerjaan.  Walau  ada  sedikit  keinginan agar putra kembarnya yang bernama Arya  Pradana  dan  Ardi  Dwinanta  untuk mengikuti jejaknya sebagai profesional, ia tetap mendukung ketika pada kenyataannya kedua putra kembarnya
malah kompak memilih jalur sebagai entrepreneur.

“Sekarang mereka berdua membuat bisnisnya sendiri. Saya hanya menjelaskan kondisi dan konsekuensi dari masing-masing pilihan tersebut. Yang perlu saya tekankan adalah bahwa sebagai
pengusaha, tanggung jawab mereka harus luar biasa. Selain kepada uang, ada tanggung jawab yang lebih besar lagi yaitu kepada manusia. Karena kita harus punya pegawai, staf, dan orang di sekeliling yang akan menjadi tanggung jawab kita.

Sehingga kita harus memikirkan bahwa bisnis kita benar-benar bisa membayar mereka, memberikan hak-hak mereka sebagai karyawan,” lanjutnya.Sedangkan kalau sebagai profesional,
kita tidak perlu berpikir demikian. Budi menuturkan, “Yang perlu kita pikirkan dan lakukan hanyalah bagaimana mencurahkan seluruh kemampuan yang kita punya untuk memberikan  added value kepada perusahaan. Tinggal nanti perusahaan yang akan melihat, sejauh apa yang kita berikan, yang semuanya tercermin pada  salary, jenjang karier, bonus, dan tunjangan lainnya.” 

Di sisi lain, menurut Budi, kalau hari ini kita bekerja di perusahaan multinasional atau nasional sebesar Astra, mungkin gaji kita lebih besar pada tahun-tahun pertama. Sedangkan  kalau kita bekerja sendiri, gaji yang kita ambil sepantasnya saja karena kita harus lebih irit. Akan tetapi, jika kita sukses, 5 tahun lagi atau paling lambat 10 tahun lagi, mungkin saja sebaliknya  income Anda
akan lebih besar dari direktur Astra sekalipun. “Pilihannya  ada  di  mereka. 

Mereka bisa sukses, biasa-biasa saja, atau bangkrut. Mereka harus siap dengan segala kemungkinan tersebut. Bagaimanapun, saya selalu percaya kesuksesan akan datang kepada mereka yang fokus, tekun, dan ulet. Tanpa itu semua tidak akan mungkin berhasil. Intinya, jangan sepelekan kredibilitas dan integritas, karena itu adalah yang paling utama. Begitupun dalam menghadapi karyawan, poin ini sangat penting dalam melakukan penilaian. Jangan terambil hati oleh mereka yang bersikap ABS alias Asal Bos Senang,” jelas Budi. Tanamkan DemokrasiTerlepas dari persoalan pekerjaan, sejak awal Budi telah menanamkan prinsip-prinsip kedisiplinan kepada anak-anaknya.

Seperti keharusan bertanggung jawab, menjunjung perilaku jujur, penerapan sistem reward yang fair, serta mau menerima konsekuensi terhadap apapun yang telah kita lakukan.“Sorry to say, walau kami merasa tidak kekurangan, tetapi dalam pemberian  reward, harus selalu ada reason-nya. Tidak ada cerita kami sebagai orang tua memberikan sesuatu kepada mereka tanpa alasan yang jelas. Dan jangan sekali-sekali curang. Ini semua akan melatih mereka untuk menghargai demokrasi. Segala sesuatu tidak ada yang ditutup-tutupi, harus dibicarakan. Kalau
ada perbedaan pendapat sebesar apapun, harus diselesaikan,” terang Budi.

Ini semua pada akhirnya berhasil menciptakan sebuah hubungan yang harmonis antara Budi dengan anak-anaknya. ibarat teman dekat yang masing-masing akan selalu siap untuk saling
berbagi antara satu dengan lainnya.


Sejenak Senggang

Biar bagaimanapun, Budi tidak menampik bahwa memang perlu untuk sesekali enak-enakan. Hanya saja, jika bicara soal ini, di kepala beliau mungkin hanya ada sedikit hal yang bisa membuatnya merasa nyaman, diantaranya adalah kegiatan sosial, golf, dan lukisan. Semenjak duduk di bangku SMA hingga kuliah, beliau termasuk penggiat sosial yang aktif. Bahkan setelah
beliau  lulus  dari  Universitas  Katolik Parahyangan  Bandung  pun,  tidak menghentikan kecintaannya tersebut.

Melalui persatuan alumni Yayasan Unpar, beliau mengusahakan untuk selalu hadir dalam setiap pertemuan, sampai pada akhirnya ia memutuskan keluar dari yayasan tersebut akibat kesibukannya. Semasa menjabat sebagai Presdir Astra pun ia manfaatkan untuk memperluas
cakupan  kegiatan  CSR  Astra.  Salah  satu momen yang paling penting adalah saat bencana Tsunami Aceh tahun 2004, Astra menyumbang alat berat serta dana yang nilainya mencapai Rp 47 miliar.

Di balik jiwa sosialnya yang tinggi, pria  yang  sempat ditunjuk  sebagai Wakil Ketua Yayasan Atma Jaya ini sempat menyayangkan karena masih banyaknya orang yang bertindak setengah hati dalam melakukan aksi sosial untuk masyarakat. Ini yang membuat urusan donatur masih
sulit didapatkan. Padahal, menurut Budi, berbagi adalah hal terindah.  Jika Anda berkunjung ke rumahnya, jangan heran jika Anda akan menemukan begitu banyak lukisan. Itu karena pria
yang gemar berjalan kaki dan golf ini juga memiliki kecintaan khusus terhadap karya seni lukis.

Karena kesukaannya itu, beliau sampai rela menghabiskan gaji pertamanya demi bisa membeli lukisan yang dilihatnya di pinggiran jalan kota Medan, tempat dimana ia pertama kali menjabat sebagai Kepala Cabang Astra. “Saya sungguh terkagum-kagum mengapa orang bisa memiliki kemampuan menuangkan pikirannya ke atas kanvas hingga menjadi sebuah gambar yang
begitu indah. Saya suka berbagai aliran/gaya lukisan, karena mereka memiliki keindahannya masing-masing,” namun saya sangat menyukai karya Affandi,
Hendra, dan Basuki Abdullah.

“Dulu, pertama kali saya membeli lukisan harganya sangat murah. Hingga terakhir, yaitu sekitar 15 tahun lalu, saya berani membeli karya Affandi seharga 70 juta,” tutupnya.Tanpa terasa kehangatan perbincangan pun larut berjalan hingga 2 jam lamanya. Salut, Om Budi. Terima kasih atas  sharing seputar buah pikir dan flosof hidup, dari seorang pebisnis sukses yang selayaknya menjadi inspirasi untuk membangun sebuah perusahan dengan ekspektasi nama sebesar Astra.

 

KONSULTASI
Langkah-langkah Memulai Bisnis Awal

Oleh : Prof.Dr.Andreas Budihardjo Saya adalah seorang marketer sejati, saya selalu berhasil mencapai target yang dibebankan perusahaan terhadap saya. Akan tetapi, saya selalu ti ...
[selengkapnya]


 











HEADLINE :


  

 

 

heading

K O B I S

Wani Piro

Point of View

MENCIPTAKAN SUPERTEAM,
BUKAN SUPERMAN!

Closer With

PETINGGI YANG SELALU MERENDAH

Finance

Disiplin Administratif:
Solusi Mengelola Keuangan Bisnis Anda

Talent Behavior

Bekerja Tanpa Pemimpin Utopia atau Kekacauan?

EXPLORE

Merek-Merek Penanda Zaman Baru

Operations 

SEGITIGA EMAS

Marketing

BERBURU BANGKU PARLEMEN 2014

 
KONFLIK KEKUASAAN
 
SEDERHANA ITU...
SEMPURNA!

 
 
TERKENANG LIONTIN TANDA CINTA IBUNDA

BIZPEDIA

KEPEMIMPINAN SEBAGAI INTI MANAJEMEN

BOOK INSIGHT

David and Goliath Malcolm Gladwell
 
 
 
 
JURNAL IRJBS
 
Agustus - November 2012
 
Vol. 5 No. 2
 
 
 
 
 
 
April - Juli 2012
 
Vol. 5 No. 1
 
 
 
 
 
 
Desember 2011 - Maret 2012
 
Vol. 4 No. 3
 
 
 
 
 
 
AGUSTUS S/D NOVEMBER 2011
 
Vol.4 No.2
 
 
 
 
 
 
JURNAL IRJBS
 
April s/d Juli 2011
 
Vol. 4 No. 1
 
 
 
 
 
 

 
 JURNAL INTEGRITAS
 
Desember 2010 s/d Maret 2011

VOL. III NO. III
 
 
 
 
 
 
 
 JURNAL INTEGRITAS
 
Agustus s/d November 2010
 
VOL. III NO. II
 
 
 
 
 
 
 JURNAL INTEGRITAS
 
April s/d Juli  2010
 
VOL. III NO. I
 
 
 
 
 
 
 
JURNAL INTEGRITAS
 
DESEMBER 2009 S/D MARET 2010
 
VOL. II NO. III
 
 
 
 
 
 
 
JURNAL INTEGRITAS
 
AGUSTUS S/D NOVEMBER 2009
 
VOL. II NO. II 
 
 
 
 
 
 
JURNAL INTEGRITAS
 
APRIL S/D JULI 2009
 
VOL.II NO.I 
 
 
 
 
 
 
JURNAL INTEGRITAS
 
DESEMBER 2008 S/D MARET 2009
 
VOL.I NO.III
 
 
 
 
 
 
JURNAL INTEGRITAS
 
AGUSTUS S/D NOVEMBER 2008
 
VOL.I NO.II

Pembaruan Fungsi Keuangan Perusahaan (Oleh:Djoko Wintoro).

Membumikan Operasi Perusahaan Besar di Indonesia (Oleh:A.Prasetyantoko & Rachmadi P)

Meningkatkan Kinerja Pemasaran (Oleh:Widodo)

Indonesia Bankrputcy Law: Revisited (Oleh:Wijantini)

Predicting Credit Risks Using Sustainability Criteria into Credit Risk Management (Oleh:Teddy Oswari)

Human Resource Retention Practices (Oleh:Mohammad A. Ashraf,R.A. Masum & M.H.R. Joarder)

The Role Of Culture And Community (Oleh:Achmad Setyo Hadi)

JURNAL INTEGRITAS

MAI 2008

VOL.I NO.I 

Keragaman IdentItas dalam KomunItas Konsumen (Oleh:Eka Ardianto )

Dinamika Hubungan Perusahaan dan Komunitas Konsumen (Oleh:Yudho Hartono)

Pengujian TeorI Trade-Off dan Pecking Order (Oleh:Darminto & Adler Haymans Manurung)

Pentingnya Safety cultur di rumah sakit (Oleh:Andreas Budihardjo)

Adopting and Implementing Advanced Manufacturing Technology (Oleh:Lena Elitan)

Corporate Governance in Family Firms (Oleh:Lukas Setia-Atmaja)
 
 
 
 

buku 



Untuk melihat preview klik Cover ini!

Untuk berlangganan klik Di Sini!
 
//

Apakah informasi yang kami tampilkan sudah sesuai dengan yang anda inginkan?
      Sangat Sesuai
      Cukup Sesuai
      Kurang Sesuai




Unique Visits Today: 375
Hits Today: 1332
Total Unique Visits: 489152
Total Hits: 31089239
Guests Online: 2


   
   

  MENU HOME:




  MENU JOURNAL:




  MENU FORUM:


PMBS Publishing   
www.management-update.org | copyright © 2018