A manager is responsible for the application and performance of knowledge (Peter Drucker) | www.management-update.org  
   
   | Beranda | Publisher | Editors | Login | Subscribed | RSS Feed | Twitter | Facebook | 25 April 2014
   
   
   
      Register | Forget Password

  Username : Password :
     
   


   
       HOME EDITORIAL HEADLINE DEPARTMENT REGULAR SUBSCRIPTION ARCHIVE    
   
 

 
 
Oleh: Sammy Kristamuljana

Prasetiya Mulya Business School 2011:

Pemisahan & Persatuan


 

Membaca judul “Pemisahan dan Persatuan” biasanya membangkitkan kesan adanya
nuansa politik karena dekat dengan istilah “divide et impera”. Tetapi, dalam tulisan ini
judul itu benar-benar murni manajemen. 

 

Tepatnya, tentang mengelola peluang kelangsungan hidup Prasetiya Mulya Business School (PMBS) di tengah-tengah perubahan mendasar akibat didirikannya Kampus BSD. Sesuai rencana, sejak akhir Agustus 2010 PMBS telah mulai menapaki perjalanan “point of no return”-nya. Langkah pertama perjalanan ini ditandai dengan dimulainya kegiatan perkuliahan 338 orang mahasiswa baru Program S1 Angkatan 2010 di Kampus BSD. Untuk selanjutnya Kampus Cilandak tidak lagi menjadi tempat perkuliahan mahasiswa baru Program S1. Hanya mahasiswa Angkatan 2007, 2008 dan 2009 yang tetap berkuliah di sini hingga tahun 2013. Arah ke depan telah jelas, Kampus BSD diperuntukkan bagi Program S1 dan Kampus Cilandak bagi Program S2 dan Program Non Gelar.

Di tengah-tengah buaian eforia “PMBS yang Besar” – kini memiliki dua kampus, Program S1 tahun 2009 menerima 170-an mahasiswa baru, 2010 dua kali lipatnya dan tahun 2011 direncanakan 500 mahasiswa rencana menjalani “point of no return” ini sama sekali tidak menunjukkan adanya
tanda-tanda bahaya. Tetapi, tidak adanya tanda bukan berarti tidak ada bahaya. Sebagaimana hasil penelitian di bidang Manajemen Stratejik menunjukkan, nilai keikutsertaan sebuah korporasi
dalam eforia Merger & Acquisition (M&A) selama dekade 1990-an ditentukan oleh kemampuan manajemennya saat pasca M&A. Kasus tentang sebuah bisnis baru yang tumbuh sangat pesat dan tiba-tiba bangkrut karena arus kas keluar jauh melampaui arus kas masuk juga selalu disertakan dalam buku ajar Accounting (Anthony & Reece, 1979) yang digunakan di Harvard Business School. 

Berbagai tanda peringatan di atas sudah barang tentu layak mendapat perhatian. Untuk itu perlu dirujuk kembali pengertian tentang “point of no return”-nya PMBS pada tulisan yang lalu (Kristamuljana, 2009), di mana hal terjadinya diketahui adalah karena: Momentum Akhir = Momentum Awal + Komitmen Yayasan Prasetiya Mulya (YPM). Momentum Akhir adalah: “Kekuatan
yang mendorong (power) berdirinya Kampus BSD”; Momentum Awal: “Kekuatan yang mendorong pertumbuhan Program S1”; dan Komitmen YPM: “Kekuatan yang berpengaruh dari (force) YPM atas
Momentum Awal, yang diarahkan kepada didirikannya Kampus BSD”.  Dari pengertian itu, minimal ada tiga aspek yang perlu mendapat perhatian maksimal agar PMBS terhindar dari bahaya yang
mengancam di sepanjang perjalanan “point of no return”-nya. Berikut adalah penjelasan ketiga aspek itu, dimulai dari bahaya yang paling di depan mata hingga upaya yang diperlukan untuk meningkatkan ketahanan kelembagaannya.


 

Pemisahan Tanggung Jawab Investasi dan Akademik 

Tidak ada yang salah dengan keinginan untuk menjadi besar, memiliki kampus sendiri untuk Program S1 dari sebelumnya“berbagi” dengan Program S2. Tetapi, pengertian “point of no return” di atas menunjukkan bahwa Komitmen YPM adalah elemen penentu bagi berdirinya Kampus BSD untuk Program S1. Tanpa adanya Komitmen YPM maka tidak ada kekuatan yang mendorong berdirinya Kampus BSD. Artinya, Momentum Akhir hanya akan menjadi sama dengan Momentum Awal, yaitu sebagai kekuatan yang mendorong pertumbuhan Program S1. Bentuknya adalah besarnya jumlah calon mahasiswa yang ingin mengikuti Program S1 Prasetiya Mulya tetapi tidak terlayani sebab tidak tersedianya tambahan fasilitas fsik pembelajaran. 

Yang dimaksud dengan Komitmen YPM adalah kesungguhan sikap serta perbuatan YPM mendirikan Kampus BSD. Bentuknya mulai dari keputusan rapat, penggalangan dana, penyaluran dana, pengendalian penggunaan dana atas fasilitas fsik pembelajaran sepanjang masa pembangunannya, hingga penyerah-terimaan fasilitas fsik yang telah selesai dibangun kepada PMBS. Komitmen YPM mencerminkan tanggung jawab “investasi” untuk mendirikan Kampus BSD.

Sebaliknya, kekuatan yang mendorong pertumbuhan Program S1 atau Momentum Awal adalah cerminan dari tanggung jawab “akademik” PMBS. Dalam arti, pengelolaan akademik secara bertanggung jawab akan membuahkan hasil, salah satunya, peningkatan jumlah calon mahasiswa
yang ingin mengikuti program studi yang diselenggarakan. Tanggung jawab yang berbeda antara
PMBS sebagai pencipta Momentum Awal dan YPM sebagai pewujud komitmen YPM mendirikan Kampus BSD harus dipedomani oleh masing-masing pihak dan dijalankan dengan konsisten. Menganggap bahwa PMBS dapat mengambil alih tanggung jawab YPM dan/atau sebaliknya, hanya akan berakibat pada defsit yang kian besar pada anggaran operasi PMBS, yang dari sejak awal berdirinya telah dikelola secara mandiri dan mulai 1994 tidak lagi menerima subsidi YPM(Kristamuljana, 2006). Defsit anggaran ini terjadi karena dana operasi yang sifatnya untuk jangka pendek digunakan untuk mendanai investasi jangka panjang. Dampaknya akan segera terasa pada penurunan mutu pendidikan dan berujung pada penurunan jumlah calon mahasiswa.

Otonomi Pengelolaan

“Model bisnis” Kampus Cilandak yang menjalankan secara bersama-sama Program Studi S1 dan S2, sangat berbeda dengan model bisnis Kampus Cilandak menjalankan Program Studi hanya S2 dan Kampus BSD menjalankan Program Studi S1 saja. Konsep yang mendasari model bisnis pertama adalah: “Dengan berbagi fasilitas yang sama penggunaan sumber-sumber akan menjadi lebih efsien”. Konsep yang mendasari model bisnis kedua adalah: “Dengan memiliki fasilitas sendiri-sendiri setiap program studi dapat berkembang lebih besar”. Bila konsep model bisnis pertama menggunakan asumsi adanya keterbatasan sumber dana, asumsi pada model bisnis kedua seharusnya keterbatasan hanya pada sumber daya manusia (SDM).
 
Pengalaman ketika pertama kali membuka Program S1 di Kampus Cilandak tahun 2005 memang menunjukkan bahwa alasan ketika itu adalah tidak memiliki dana yang dibutuhkan untuk menjalankannya di tempat lain. Tetapi kini dengan adanya Komitmen YPM maka alasan tidak memiliki dana menjadi tidak ada lagi dan Program S1-pun dijalankan di Kampus BSD. Sayangnya, dalam praktik upaya mengubah suatu konsep model bisnis ataupun berubah dari satu ke lain konsep model bisnis “biaya”-nya sangat mahal. Sebab, ketika sebuah konsep model bisnis diterapkan maka di dalamnya pasti timbul biaya yang besar dan tidak mungkin ditarik kembali (Johnson & Kaplan, 1987).

 

Kampus Cilandak ketika membuka Program S1 pada tahun 2005 telah mengeluarkan biaya besar untuk penambahan fasilitas fsik pembelajaran baru. Untuk membangun fasilitas fsik pembelajaran yang seluruhnya baru di Kampus BSD hingga saat ini sudah dikeluarkan biaya yang sangat besar dan bila seluruh master plan ingin dirampungkan akan dibutuhkan tambahan biaya yang lebih besar lagi.  Seluruh biaya yang telah timbul ini memang tidak mungkin ditarik kembali tetapi tetap berguna untuk mengukur produktivitas pendayagunaannya. Dalam kasus Kampus BSD biaya itu diketahui menjadi lebih besar lagi karena harus ditambahkan dengan “kehilangan peluang”
memperoleh pendapatan dari mahasiswa baru Program S1 Angkatan 2010 dan seterusnya karena kini pendapatan itu menjadi hak Kampus BSD.

Dalam kasus Kampus BSD (1) biaya itu masih jauh perimbangannya dengan pendapatan dari mahasiswa karena jumlah mereka yang relatif sangat sedikit untuk keluasan fasilitas fsik pembelajaran yang disediakan, (2) kepada biaya itu harus ditambahkan biaya operasi yang kini tidak bisa dibagi lagi dengan Program S2 seperti ketika masih bergabung di Kampus Cilandak dan
(3) harus ditambahkan lagi dengan biaya perekrutan dan pengembangan faculty member (tenaga pengajar)-nya sendiri mengingat jumlah serta kriteria mahasiswa dan tujuan Program S1 berbeda dengan S2.

Pemahaman atas besarnya “biaya” yang melampaui ukuran moneter dan berdampak pada kelangsungan hidup PMBS menyarankan perlunya diberikan hak “otonomi pengelolaan” pada masing-masing kampus. Sudah barang tentu hak otonomi pengelolaan ini didisain dengan persetujuan dan dijalankan di bawah kendali manajemen PMBS secara keseluruhan. Dengan hak otonomi ini setiap kampus akan memfungsikan struktur organisasi, sumber-sumber yang dipercayakan dan anggaran operasinya lebih efsien-efektif dan leluasa sehingga dapat meningkatkan peluang kelangsungan hidupnya.

Sebagai contoh, bila sebuah kampus ingin membuka sebuah Program Studi baru, hanya dapat disetujui bila biaya yang timbul dari menjalankannya tidak akan membahayakan kelangsungan
hidup kampus itu. Karena setiap kampus akan berupaya meningkatkan peluang kelangsungan hidupnya dengan tidak membebani kampus yang lain, peluang kelangsungan hidup PMBS secara
keseluruhan akan meningkat.

Ikatan Yang Mempersatukan

Tidak diragukan lagi bahwa bila YPM dan PMBS menjalankan tanggung jawabnya dengan konsisten, dan Kampus Cilandak serta Kampus BSD melaksanakan hak otonominya dengan semangat meningkatkan nilai PMBS di mata semua pemangku kepentingan, pemisahan kelembagaan dan unit organisasi yang secara manajemen diperlukan tetap akan menghasilkan ikatan yang mempersatukan. Ikatan itu terjadi karena dengan keberhasilan YPM menggalang dana dan mendirikan Kampus BSD, PMBS akan merghormati dan menghargai YPM seperti selama iniditunjukkan atas keberhasilan mendirikan Kampus Cilandak.

 

Respek itu akan ditunjukkan dalam bentuk pendayagunaan yang maksimal fasilitas fsik pembelajaran Kampus BSD, seperti yang ditunjukkan melalui pendayagunaan Kampus Cilandak selama ini. Diberikannya kepercayaan dalam bentuk hak otonomi pengelolaan oleh PMBS akan meningkatkan mutu “kedewasaan” para penanggung jawab pengelolaan dan pimpinan program studi di masing-masing kampus, yang akan terukur dari keandalan mereka meningkatkan efektivitas biaya yang dikeluarkan.   

Selain melalui tanggung jawab kelembagaan dan prosedur baku operasi menjalankan hak otonomi pengelolaan, ikatan ini dijiwai oleh tiga nilai yang telah tertanam dalam diri mereka yang disebut generasi pertama, yaitu: “Willingness to do more, don’t blame others, speak with data”.  Dan kini sebagai organisasi dewasa, yang meyakini bahwa dirinya adalah: “Human Developer” dan tujuan hidupnya adalah: “Inspiring and Pioneering Business Learning Excellence”, PMBS telah menjabarkan ulangketiga nilai itu menjadi empat: “Care, Humility, Achieving, Integrity”, atau disingka CHAIN, agar lebih mudah dijiwai oleh generasi penerus.  “Semoga rahmat Tuhan mengiring langkahmu”. 

 

Sammy Kristamuljana
 
Guru Besar
Manajemen Stratejik,
Ketua Prasetiya Mulya
Business School

 

 

KONSULTASI
Langkah-langkah Memulai Bisnis Awal

Oleh : Prof.Dr.Andreas Budihardjo Saya adalah seorang marketer sejati, saya selalu berhasil mencapai target yang dibebankan perusahaan terhadap saya. Akan tetapi, saya selalu ti ...
[selengkapnya]


 











HEADLINE :


  

 

 

heading

Horizons

Mengejar Kemaknaan Baru

Point of View

Gebrakan Purnajual Turisme

Closer With

Beri Saya Kesempatan

Finance

Disiplin Administratif:
Solusi Mengelola Keuangan Bisnis Anda

Talent Behavior

Bekerja Tanpa Pemimpin Utopia atau Kekacauan?

Strategy

CENDERA MATA : Si Kecil yang Berarti Besar

Operations 

SEGITIGA EMAS

Marketing

POTENSI TERSEMBUNDI SARANG KORUPTOR

 
KETIKA ASIA MULAI 'BERTARING'
 
 
Berjejaring sambil Gowes
 
 
The “Wild” Manager MARK THORNTON

 
INNOVATION BLOWBACK MANAJEMEN DISRUPTIF ALA ASIA


Prasetiya Mulya Business School 2011:

Pemisahan & Persatuan
 
 
 
JURNAL IRJBS
 
Agustus - November 2012
 
Vol. 5 No. 2
 
 
 
 
 
 
April - Juli 2012
 
Vol. 5 No. 1
 
 
 
 
 
 
Desember 2011 - Maret 2012
 
Vol. 4 No. 3
 
 
 
 
 
 
AGUSTUS S/D NOVEMBER 2011
 
Vol.4 No.2
 
 
 
 
 
 
JURNAL IRJBS
 
April s/d Juli 2011
 
Vol. 4 No. 1
 
 
 
 
 
 

 
 JURNAL INTEGRITAS
 
Desember 2010 s/d Maret 2011

VOL. III NO. III
 
 
 
 
 
 
 
 JURNAL INTEGRITAS
 
Agustus s/d November 2010
 
VOL. III NO. II
 
 
 
 
 
 
 JURNAL INTEGRITAS
 
April s/d Juli  2010
 
VOL. III NO. I
 
 
 
 
 
 
 
JURNAL INTEGRITAS
 
DESEMBER 2009 S/D MARET 2010
 
VOL. II NO. III
 
 
 
 
 
 
 
JURNAL INTEGRITAS
 
AGUSTUS S/D NOVEMBER 2009
 
VOL. II NO. II 
 
 
 
 
 
 
JURNAL INTEGRITAS
 
APRIL S/D JULI 2009
 
VOL.II NO.I 
 
 
 
 
 
 
JURNAL INTEGRITAS
 
DESEMBER 2008 S/D MARET 2009
 
VOL.I NO.III
 
 
 
 
 
 
JURNAL INTEGRITAS
 
AGUSTUS S/D NOVEMBER 2008
 
VOL.I NO.II

Pembaruan Fungsi Keuangan Perusahaan (Oleh:Djoko Wintoro).

Membumikan Operasi Perusahaan Besar di Indonesia (Oleh:A.Prasetyantoko & Rachmadi P)

Meningkatkan Kinerja Pemasaran (Oleh:Widodo)

Indonesia Bankrputcy Law: Revisited (Oleh:Wijantini)

Predicting Credit Risks Using Sustainability Criteria into Credit Risk Management (Oleh:Teddy Oswari)

Human Resource Retention Practices (Oleh:Mohammad A. Ashraf,R.A. Masum & M.H.R. Joarder)

The Role Of Culture And Community (Oleh:Achmad Setyo Hadi)

JURNAL INTEGRITAS

MAI 2008

VOL.I NO.I 

Keragaman IdentItas dalam KomunItas Konsumen (Oleh:Eka Ardianto )

Dinamika Hubungan Perusahaan dan Komunitas Konsumen (Oleh:Yudho Hartono)

Pengujian TeorI Trade-Off dan Pecking Order (Oleh:Darminto & Adler Haymans Manurung)

Pentingnya Safety cultur di rumah sakit (Oleh:Andreas Budihardjo)

Adopting and Implementing Advanced Manufacturing Technology (Oleh:Lena Elitan)

Corporate Governance in Family Firms (Oleh:Lukas Setia-Atmaja)
 
 
 
 

buku 



Untuk melihat preview klik Cover ini!

Untuk berlangganan klik Di Sini!
 
//

Apakah informasi yang kami tampilkan sudah sesuai dengan yang anda inginkan?
      Sangat Sesuai
      Cukup Sesuai
      Kurang Sesuai




Unique Visits Today: 3
Hits Today: 6
Total Unique Visits: 68608
Total Hits: 467391
Guests Online: 1


   
   

  MENU HOME:




  MENU JOURNAL:




  MENU FORUM:


PMBS Publishing   
www.management-update.org | copyright © 2014