A manager is responsible for the application and performance of knowledge (Peter Drucker) | www.management-update.org  
   
   | Beranda | Publisher | Editors | Login | Subscribed | RSS Feed | Twitter | Facebook | 31 October 2014
   
   
   
      Register | Forget Password

  Username : Password :
     
   


   
       HOME ARTICLE ARCHIVES ARTICLE IN PROCESS GUIDE FOR AUTHOR REVIEWER ABOUT THE JOURNAL SUBSCRIPTION    
   
 

 
 
Oleh : Eka Ardianto ( Prasetiya Mulya Business School )

Keragaman Identitas dalam Komunitas Konsumen:

Pengamatan Partisipatif melalui Fashion Marketing
 


Abstract

The rise of consumer communities leads the author to conduct this research. ‘Traditional’ approach views consumer community as a solid, stable, and homogeneous entity. However, using postmodernism approach, the author can spot identities in a consumer community. The exploration is done by participative observation through fashion marketing. It is found that there are four identities in the community, there are: 1) individual-culture identity (nature based), 2) collective-culture identity (future based), 3) temporary-structure identity (discussion based), and 4) permanent-structure identity (instruction based). Implication for marketer is also discussed at the end of this article.

 
Keywords: identity, community, fashion marketing.

Sejalan dengan maraknya kehadiran komunitas konsumen, berbagai sikap, pemikiran maupun pengalaman anggota komunitas diekspresikannya kedalam berbagai objek ekspresi yang bersifat artifak, salah satunya melalui fashion. Berbagai komunitas mencirikannya melalui fashion. Fashion bagi mereka bukan lagi sekadar penutup badan, tetapi lebih dari itu menjadi identitas mereka. 

Menggali Identitas lewat Marketing

Fenomena seperti yang diungkap dalam latar belakang penelitian, menarik untuk diteliti dalam ranah pemasaran komunitas karena dapat mempengaruhi stategi pemasaran komunitas.  Karena itu, tujuan penelitian ini adalah memahami identitas yang terdapat dalam komunitas konsumen melalui fashion marketing.

Penelitian terhadap komunitas konsumen berdasar penelusuran literatur, belumlah banyak diteliti. Salah satu ‘karya monumental’ yang selama ini banyak diacu adalah penelitian dari Muniz dan O’Guinn (2001) yang memperkenalkan konsep komunitas merek (Brand Community). Konsep tersebut menyatakan bahwa ciri-ciri sebuah komunitas merek adalah: 1) memiliki ikatan kebersamaan; 2) memelihara ritual dan tradisi; dan 3) memiliki tanggung jawab moral.

Selanjutnya konsep tersebut dikembangkan oleh Mc. Alexander, Schouten, dan Koenig (2002) yang memperkenalkan konsep membangun komunitas merek. Dalam konsep tersebut, dinyatakan ada 4 variabel pembentuk komunitas konsumen, masing-masing adalah: 1) produsen; 2) konsumen; 3) merek; dan 4) produk. 

Penelitian Mc. Alexander dan Schouten tersebut merupakan kelanjutan dari penelitian mereka sebelumnya terhadap komunitas pengendara sepeda motor Harley Davidson. Dalam penelitian mereka, fashion marketing menjadi salah satu pengamatannya, tetapi mereka belum mengaitkan dengan konsep identitas (Schouten dan Mc. Alexander 1995).

Dari penelusuran di beberapa literatur tersebut, dapat dikatakan bahwa penelitian-penelitian komunitas belum meneliti lebih lanjut mengenai konsep identitas dalam komunitas konsumen melalui fashion marketing.

Penelusuran berikutnya mengarah pada penelitian fashion marketing. Dalam ranah ini, fashion marketing terbilang sangat menarik, mungkin saja karena ‘dunia’ fashion itu sendiri yang penuh dengan warna dan gaya, sehingga sebuah jurnal khusus diterbitkan untuk menyebarkan penelitian tersebut, dengan nama Journal of Fashion Marketing and Management. Penelusuran dari beberapa literatur diperoleh beberapa temuan. Delong dkk. (2005) meneliti mode pakaian China terhadap preferensi pemilihan fashion oleh konsumen Amerika di Amerika. Mereka mengungkapkan bahwa mode pakaian China tidak merupakan preferensi utama.

 

Sejalan dengan penelitian Delong dkk. yang mengaitkan fashion dengan perilaku konsumen, Park dkk. (2006), meneliti pengaruh keterlibatan fashion, emosi positif, dan perilaku hedonis terhadap pembelian fashion dengan segera tanpa rencana (impulse buying). Anak muda menjadi fokus penelitiannya. Park dkk. kemudian menemukan bahwa keterlibatan fashion dan emosi positif memberi pengaruh langsung terhadap pembelian fashion dengan segera tanpa rencana, sedangkan perilaku hedonis tidak memberi pengaruh langsung.

Suharini (2007) juga meneliti fashion. Ia mempertanyakan apakah fashion itu suatu kebutuhan atau identitas gaya hidup. Wanita muda menjadi fokus penelitiannya. Ia menyatakan bahwa ada berbagai faktor yang saling menpengaruhi fashion wanita muda. Dengan selalu menggunakan produk fashion luar negeri, maka seorang individu tidak hanya terlihat lebih menarik, tetapi juga dapat mengekspresikan status sosial-ekonominya.

Selain terkait dengan perilaku konsumen, penelitian fashion marketing juga terkait dengan manajemen perantara (channel management) yang memfokuskan pada operasi rantai nilai, manajemen barang dagangan (merchandise management), dan desain toko. Jacobs (2006) meneliti demand chain management, serta Barnes dan Greenwood (2006) meneliti supply chain management dalam fashion marketing. Karena karakteristik dari fashion itu sendiri yang sensitif terhadap siklus hidup mode yang cepat dan pendek, maka Jacobs, Barnes, dan Greenwood menekankan pentingnya fleksibilitas, cepat tanggap, dan integrasi dalam operasi rantai nilai.

Peneliti lain yang mengaitkan fashion marketing dengan manajemen barang dagangan adalah Dewsnap dan Hart (2004) yang meneliti mengenai category management. Mereka menyatakan bahwa merek, desain, ukuran, dan proses sebelum pembelian pakaian menjadi pertimbangan penting dalam manajemen barang dagangan. Penelitian berikutnya terkait dengan desain toko virtual. Siddiqui dkk. (2003) menekankan perlunya mengelola pengalaman pembelian serta meniadakan risiko transaksi pembelian.

Penelitian fashion marketing berikutnya terkait dengan kepedulian lingkungan. Joergens (2006) dalam penelitiannya menyatakan bahwa respondennya tidak mengaitkan antara kepedulian lingkungan dengan pemilihan fashion. Dari penelusuran di beberapa literatur tersebut, dapat dikatakan bahwa penelitian-penelitian fashion marketing belum meneliti lebih lanjut mengenai konsep identitas dalam komunitas konsumen melalui fashion marketing.

Siapa Komunitas Slankers?

Penelitian ini meneliti komunitas Slankers (Ardianto 2006) yaitu para pemuja kelompok musik Slank. Slank yang pada tahun 2008 berusia 25 tahun adalah band yang memiliki karakteristik baik musik, maupun lirik yang khas. Musiknya cenderung pada aliran pop rock, yang dipengaruhi oleh musik dari Rolling Stones, dengan nuansa reggae, dan blues, sedangkan liriknya berkaitan dengan kehidupan anak muda, cinta, lingkungan hidup, hingga perdamaian.

Personel Slank adalah: Bimbim pada drum, Ridho dan Abdee pada gitar, Ivanka pada bass, dan Kaka pada vokal. Komunitas Slankers terbilang cukup besar. “Koran-koranan Slank” atau biasa disebut KanS yaitu koran yang diterbitkan oleh Slank sebagai media komunikasi Slank dengan Slankers mengestimasikan jumlah Slankers di Indonesia mencapai jutaan orang, yang mengelompok lebih dari 60 kelompok komunitas Slankers di seluruh Indonesia.

Mereka menyebutnya sesuai dengan domisilinya, misalnya Slankers Jakarta, Slankers Depok, Slankers Tangerang, Slankers Bogor, Slankers Cilacap, bahkan ada juga Slankers yang berada di luar negeri seperti Titin Akiyoshi, ia Slankers di Jepang, dan Olivia Paggiaro, ia Slankers di Australia. Gambar 1 memperlihatkan contoh gambar kelompok domisili Slankers, seperti Slankers Jakarta Pusat, Slankers Jakarta Utara, dan Slankers Depok. Gambar-gambar tersebut juga terdapat dalam kaos Slankers.

 
Konsep Identitas
 
Identitas adalah bagaimana individu maupun kelompok mendefinisikan dirinya dalam konteks sosial kulltural. Karena itu, ada berbagai kategori yang berkaitan dengan  bagaimana individu ataupun kelompok mendefinisikan dirinya, misal (Giles dan Middleton 1999:31): Gender; umur; pekerjaan (sosial)Warna kulit; kemampuan fisik; tinggi badan (penampilan fisik)Penyendiri; mudah bergaul; pemalu (kepribadian)Indonesia; Malaysia; Singapura (kebangsaan)Ibu; ayah; anak (hubungan keluarga)Dosen; mahasiswa; karyawan (pekerjaan)

Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat dikatakan bahwa identitas berkaitan dengan pengkategorian individu atau kelompok (identity definitions function to clasify and categorize) (Giles dan Middleton 1999:34). Diskusi mengenai identitas mempersoalkan siapa mereka, dan yang lebih penting lagi mereka bukan siapa (who they are and, importanly, who they are not ) (Giles dan Middleton 1999:36).

Selain kategori, pandangan lain mengenai identitas diungkapkan oleh Belk (1988) yang menyatakan bahwa kepemilikan adalah kontibutor utama terhadap identitas (Our possessions are a major contributor to and reflection of our identities) (Belk 1988:139). Ada beberapa kategori kepemilikan yang berkiatan erat dengan identitas, yaitu: tubuh, pengalaman, tempat, benda, orang, dan ide (Belk 1988:141).

Selain merupakan definisi diri, identitas juga dibentuk dari adanya interaksi (interface) antara pengaruh eksternal (lingkungan) dan pengaruh internal (pribadi). Identitas kelompok atau individu, dapat terbentuk karena pengaruh dari bagaimana lingkungannya –termasuk juga institusi- memperlakukan kelompok atau individu tersebut, atau dengan kata lain, lingkungan juga turut membentuk identitas (his identity is defined by others), oleh karena itu  identitas bersifat kontekstual. Sedangkan pengaruh internal yang dapat mempengaruhi terbentuknya identitas antara lain seperti perasaan, motivasi, nilai, dan keyakinan (Giles dan Middleton 1999:34).

Pengamatan Partisipatif
 
Mengacu pada konsep identitas yang telah diuraikan sebelumnya, yang mana identitas bersifat kontekstual, maka metodologi penelitiannya adalah pengamatan partisipatif (participant observation) (Spradley 1980). Dalam penelitian ini, saya sebagai pengamat, terlibat secara penuh baik fisik maupun emosi- dalam komunitas Slankers.

Slankers dalam kesehariannya nongkrong di sekitar rumah tinggal Bimbim  salah seorang anggota kelompok musik Slank- yang sekaligus menjadi markas Slank dan Slankers yang beralamat di jalan Potlot, sekitar bilangan Kalibata Jakarta Selatan. Di sekitar markas itu ada dua WarSlank (Warung Slank) yaitu toko kecil yang menjual segala macam atribut yang berkaitan dengan Slank dan Slankers, seperti kaos, stiker, dan kaset.
 
Di markas dan WarSlank itu setiap hari selalu dikunjungi oleh Slankers yang berasal tidak hanya dari Jakarta dan sekitarnya, tetapi sering kali juga dari berbagai daerah di tanah air. Di tempat itulah saya dapat berjumpa dengan Slankers. Mereka umumnya nongkrong berkelompok, masing-masing kelompok terdiri dari sekitar empat sampai enam orang. Dalam berbagai kesempatan, saya biasanya mendatangi sebuah kelompok kemudian bergabung dengan mereka.

Dalam pengamatan tersebut, fashion mereka, khususnya kaos dan seragam yang mereka pakai, saya kaitkan dengan subjek, aktifitas, dan peristiwa yang sedang terjadi (Spradley 1980). Yang perlu ditegaskan di sini, saya memandang keterkaitan fashion mereka dengan subjek, aktivitas, dan peristiwa yang sedang terjadi tersebut bersifat polifonik, artinya sebuah kaos yang sama yang dikenakan oleh Slankers yang sama tetapi pada aktivitas dan peristiwa yang berbeda bukanlah memiliki makna tunggal berdasarkan makna dari ‘pemilik kebudayaan’ melainkan makna beragam berdasarkan pengetahuan dan pengalaman pengamat (Clifford 1988). Pandangan tersebut dipengaruhi oleh etnografi berbasis posmodernisme (Marcus 1998).

Ketika Slank akan melakukan konser di Ancol dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Slank, saya mengamati tiga peristiwa. Peristiwa pertama, sejumlah Slankers berdatangan ke markas Slank untuk bersama-sama akan pergi ke Ancol memperingati HUT Slank, seperti tampak dalam
 
 
 
memperlihatkan Slankers berjalan berkelompok beriringan menggunakan kaos yang bergambar kelompok asal domisili mereka. Seperti telah diuraikan sebelumnya, komunitas Slankers di Indonesia mencapai jutaan orang, yang mengelompok lebih dari 60 kelompok komunitas Slankers di seluruh Indonesia. Mereka menyebutnya sesuai dengan wilayah domisilinya, misalnya Slankers Jakarta, Slankers Depok, Slankers Tangerang, Slankers Bogor, Slankers Cilacap.

Sedangkan Gambar 3 memperlihatkan peristiwa kedua, yaitu transaksi jual beli kaos yang mengandung atribut Slank dan Slankers terkait dengan HUT Slank. Seorang Slankers menggunakan kaos kelompok Slankers dari domisili tertentu, sedangkan Slankers lainnya memakai kaos bergambar Bimbim. Bimbim menjadi idola Slankers, karena selain ia salah satu personel Slank, juga karena keterampilannya memainkan alat musik drum. Selain itu Bimbim dan Kaka dikenal juga pernah sebagai pengguna narkoba, tetapi kemudian karena pengaruh dari Bunda, yaitu ibunda dari Bimbim, Bimbim dan Kaka sudah tidak menjadi pengguna narkoba lagi. Bagi Slankers, Bimbim dan Kaka yang tidak lagi menggunakan narkoba tersebut menjadi idola tersendiri.
 
Sedangkan Gambar 3, adalah peristiwa ketiga, yaitu peristiwa ‘pembekalan’ yang dilakukan oleh Bunda selaku manajer Slank- kepada para “Bidadari Penyelamat” (BP) – yaitu Slankers yang berperan sebagai ‘petugas’ yang akan bertugas ‘mengamankan’ secara internal jalannya konser HUT Slank tersebut. Mereka yang menganggap dirinya “Slankers sejati” mendaftar menjadi Slankers, kemudian memperoleh kartu anggota, tetapi bagi Slankers yang ‘kadar’ sejatinya lebih tinggi, mereka bisa menjadi BP.
 
BP bagi Slankers juga sebagai panutan. Untuk menjadi BP, seorang Slankers ‘menyebar virus’ terlebih dahulu untuk mendapatkan sekitar 20 orang yang akan mendaftar menjadi Slankers. BP akan memperoleh pelatihan khusus yang diberikan oleh polisi berkaitan dengan kedisplinan. Gambar 4, memperlihatkan seorang Slankers yang berperan sebagai panitia HUT Slank, mengenakan kaos yang di bagian belakangnya bertuliskan SLANKKISSME. Karena untuk panitia, kaos tersebut tidak diperjualbelikan, yang berarti hanya sekelompok Slankers tertentu saja yang memilikinya.

Pada saat saya memfoto gambar itu, Slankers tersebut sedang memperhatikan dari belakang jalannya ‘pembekalan’ terhadap kelompok BP. Sedangkan Gambar 5, menunjukkan sekelompok BP yang memakai seragamnya sedang berpose setelah ‘pembekalan’. Karena seragam tersebut diperuntukan hanya bagi mereka yang menjadi BP saja, maka seragam tersebut tidak diperjualbelikan.

Memaknai Ragam Kaos Slankers
 
Analisis dimulai dari Gambar 2. Sekelompok Slankers yang akan menghadiri HUT Slank mengenakan kaos yang bercirikan domisili Slankers. Pada peristiwa itu, saya memahami kaos yang digunakan Slankers tersebut bukanlah merupakan representasi dari domisili yang bersifat asal muasal (bukan menjawab pertanyaan: dari mana Anda berasal?), melainkan ekspresi dari motivasi kelompok, yaitu sebagai keperansertaan kelompok (menjawab pertanyaan: dalam rangka apa?).

Keperansertaan kelompok adalah motivasi kelompok untuk menghadiri suatu peristiwa tertentu yang dihadiri oleh berbagai kelompok dalam suatu komunitas (Bowman 1997), dalam hal ini saya menyebutnya “motivasi konstekstual”. Dalam pengertian ini, komunitas terdiri dari berbagai kelompok. Analisis selanjutnya bergerak ke Gambar 3. Seorang Slankers menggunakan kaos kelompok Slankers dari domisili tertentu, sedangkan Slankers lainnya memakai kaos bergambar Bimbim. Bagi Slankers, Bimbim menjadi idola Slankers.
 
Pada peristiwa itu, ada berbagai kaos yang digunakan Slankers, ada yang sesuai dengan idolanya, ada yang sesuai domisili asalnya. Saya memahami berbagai kaos yang digunakan Slankers tersebut adalah penghadiran berbagai imaji Slankers, ia bisa berupa imaji Bimbim, atau imaji Slankers itu sendiri (Ardianto 2006), dalam hal ini saya menyebutnya “imaji ideal”.

Selanjutnya Gambar 2 dan Gambar 3 saya sandingkan dalam bentuk oposisi biner yang setara (Clifford 1988, Edgar 1997, Kidd 2000, Nadel-Klein 1997). Pada Gambar 2 sebelah kiri, kaos yang dipakai oleh kelompok yang bercirikan domisili Slankers  bagi saya bermakna “future” atau “kondisi yang akan terjadi”, karena terkait dengan “motivasi konstekstual” dan “kultur kelompok”, sedangkan berbagai kaos yang dipakai oleh para Slankers pada Gambar 3 sebelah kanan bermakna “nature” atau “kondisi yang sedang terjadi”, karena terkait dengan “imaji ideal”  dan “kultur individu” (Kahn 1995, Overing dan Passes 2000).
 
Penyandingan kedua gambar tersebut saya letakkan pada posisi sumbu horizontal yang saya beri label “kultur”. Kultur dalam hal ini mengandung sifat substansial dan bebas. Sifat substansial dalam hal ini tercermin pada “motivasi konstekstual” dan “imaji ideal”, sedangkan sifat bebas tercermin pada kaos-kaos yang dikenakan Slankers dalam kedua gambar tersebut yang dijual bebas.

Analisis berikutnya menuju pada Gambar 4. Tulisan SLANKKISSME di belakang kaos Slankers tersebut mengacu pada salah satu judul album Slank. Bagi Slank dan Slankers, tulisan tersebut memiliki makna trilogi, yaitu: Slankkissme, Slank is me, dan Slankisme.
 
Bagi saya, trilogi tersebut merupakan ideologi. Dalam pengertian ini, ideologi bukanlah kekuatan searah yang otoritatif untuk memelihara kemapanan (Barker 2000), melainkan hubungan antara Slankers dengan Slank yang bersifat kontestasi pemaknaan (Payne 1996).  Analisis selanjutnya bergerak ke Gambar 5. Pada gambar tersebut BP berpose memakai seragamnya, lengkap dengan bendera merah putih. Bagi saya, seragam yang dipakai oleh BP tersebut mencerminkan Slankers yang mewarisi sejarah (Geertz 1973).

Selanjutnya Gambar 4 dan Gambar 5 saya sandingkan dalam posisi sumbu vertikal, tetapi tetap mengandung oposisi biner yang setara (Clifford 1988, Edgar 1997, Kidd 2000, Nadel-Klein 1997). Sumbu vertikal tersebut saya beri label “struktur”. Struktur dalam hal ini mengandung sifat relasional dan mengikat (Bailey 1971). Sifat relasi atau hubungan, terlihat pada ideologi Slankkissme yang terdapat pada gambar 3 sebelah kiri, yang mana bagi saya bermakna “discussion” yaitu hubungan kontestasi pemaknaan baik antara Slank dengan Slankers maupun di antara Slankers. Sedangkan gambar 3 sebelah kanan bagi saya bermakna “instruction” yaitu hubungan pewaris dengan yang diwarisi.
 
Sedangkan sifat mengikat terlihat pada kepemilikan kaos panitia seperti yang ada pada gambar 3 sebelah kiri, dan seragam BP pada gambar sebelah kanan, yang mana tidak semua Slankers dapat memilikinya (Bailey 1971). Dalam analisis tersebut, sumbu horisontal dan vertikal bersifat oposisi biner, saya ilustrasikan beserta label dan deskripsinya, seperti tampak pada Gambar 6.

 
 
Diskusi dan Implikasi bagi Pemasar
 
Label pada setiap ujung sumbu yang terlihat pada Gambar 6 , merupakan ragam identitas yang terdapat dalam komunitas Slankers, yaitu identitas kultur individu (bersifat nature), identitas kultur kelompok (bersifat future), identitas struktur temporer (bersifat discussion), dan identitas struktur permanen (bersifat instruction). Temuan ini menyatakan bahwa komunitas bukanlah merupakan satu identitas tunggal seperti yang selama ini dipahami, melainkan mengandung keragaman identitas.

Memahami adanya keragaman identitas dalam komunitas, bagi pemasar akan lebih mengefektifkan hubungan antara pemasar dengan komunitasnya, misalnya dalam pengelolaan iklannya. Berbagai pilihan aktor yang dapat menjadi bintang iklannya, menjadi salah satu pertimbangan kreatif iklannya.

Mempengaruhi Strategi Pemasar

 

Identitas dalam komunitas konsumen menarik untuk diteliti, karena dapat mempengaruhi strategi pemasaran komunitas. Penelitian ini menekankan pada memahami adanya keragaman identitas dalam komunitas konsumen melalui fashion marketing. Temuan penelitian ini mengungkapkan ada empat ragam identitas komunitas, yaitu identitas kultur individu (bersifat nature), identitas kultur kelompok (bersifat future), identitas struktur temporer (bersifat discussion), dan identitas struktur permanen (bersifat instruction).

Referensi

  • Ardianto, Eka (2006), Etnografi Dialojik Naratif- Studi Kasus Pengalaman Imajinatif Slankers, Disertasi doktor.
  • Bailey, F.G. (1971), Gifts and Poison: The Politics of Reputation, Oxford: Basil Blackwell.
    Barker, Chris (2000),Cultural Studies-Theory and Practice, London: Sage Publications.
  • Barnes, Liz, dan Gaynor Lea-Greenwood (2006), “Fast fashioning the supply chain: Shaping the research agenda”, Journal of Fashion Marketing and Management, vol. 10, iss. 3, 259-271.
  • Belk, Russell W. (1988),”Possessions and the extended self”, Journal of Consumer Research, vol. 15, September.
  • Bowman, Glenn (1997), “Identifying versus identifying with ‘the other’: Reflections on the siting of the subject in anthropological discourse”, dalam After Writing Culture: Epistemology and Praxis in Contemporary Anthropology, Allison James, Jenny Hockey, dan Andrew Dawson (ed.), London: Routledge.
  • Clifford, James (1988), The Predicament of Culture: Twentieth-Century Ethnography, Literature, and Art, Cambridge, MA: Harvard University Press.
  • Delong, Marilyn Juanjuan Wu, dan  Mingxin Bao (2005), “The Influence of Chinese dress on Western fashion”, Journal of Fashion Marketing and Management, vol. 9, iss. 2, 166-179.
  • Dewsnap, Belinda, dan Cathy Hart (2004), “Category management: A new approach for fashion marketing?”, European Journal of Marketing, vol. 38, iss. 7, 809-834.
  • Edgar, Iain R. (1997), “The tooth butterfly, or rendering a sensible account from the imaginative present”, dalam After Writing Culture: Epistemology and Praxis in Contemporary Anthropology, Allison James, Jenny Hockey, dan Andrew Dawson (ed.), London: Routledge.
  • Geertz, Clifford (1973), The Interpretation of  Cultures, Selected Essays, New York, NY: Basic Books Publishers.
  • Giles, Judy dan Tim Middleton (1999), Studying Culture-A Practical Introduction, Malden, MA: Blackwell Publishers.
  • Jacobs, Dany (2006), “The promise of demand chain management in fashion”, Journal of Fashion Marketing and Management, vol. 10, iss. 1, 84-97.
  • Joergens, Catrin (2006), “Ethical fashion: Myth or future trend?”, Journal of Fashion Marketing and Management, vol. 10, iss. 3, 360-371.
  • Kahn, Joel S. (1995) Culture, Multiculture, Postculture, London: Sage Publications. 
  • Kidd, Stephen W. (2000), “Knowledge and the practice of love and hate among the enxet Paraguay”, dalam The Anthropology of Love and Anger-The Aesthetics of Conviviality in Native Amazonia, Joanna Overing dan Alan Passes London: Routledge
  • Marcus, George E., dan Michael M.J. Fischer (1998), Ethnography through Thick & Thin, Princeton, New Jersey: Princeton University Press.
  • Mc Alexander, James H., John W. Schouten, dan Harold F. Koenig (2002), “Building brand community”, Journal of Marketing, vol. 66, Januari, 38-54.
  • Muniz, A.M., dan T.C. O’Guinn (2001). “Brand community”, Journal of Consumer Research 27(Maret):412–432.
  •  Nadel-Klein, Jane (1997),”Crossing a representational divide: From West to East in Scottish ethnography”, dalam After Writing Culture: Epistemology and Praxis in Contemporary Anthropology, Allison James, Jenny Hockey, dan Andrew Dawson (ed.), London: Routledge.
  • Overing, Joanna dan Alan Passes (2000),"Conviviality and the opening up of Amazonian anthropology", dalam The Anthropology of Love and Anger-The Aesthetics of Conviviality in Native Amazonia, Joanna Overing dan Alan Passes (ed.), , London: Routledge.
  • Park, Eun Joo, Eun Young Kim, dan Judith Cardona Forney (2006), “A Structural model of fashion-oriented impulse buying behavior”, Journal of Fashion Marketing and Management, vol. 10, iss. 4, 433-446.
  • Payne, Michael (1996)(ed), A Dictionary of Cultural And Critical Theory, Cambridge, MA: Blackwell Publishers
  • Schouten, John W. dan James H. Mc Alexander (1995),”Subcultures of consumption: An ethnography of the new bikers”, Journal of Consumer Research, Vol. 22, June, 43-61.
  • Siddiqui, Noreen, Antonia O'Malley, Julie C McColl, dan Grete Birtwistle (2003), “Retailer and consumer perceptions of online fashion retailers: Web site design issues”, Journal of Fashion Marketing and Management, vol. 7, iss. 4, 345-356.
  • Spradley, James P. (1980), Participant Observation, New York, NY: Holt, Rinehart and Winston
    Suharini, Mieke (2007), “Fesyen: Suatu kebutuhan atau identitas gaya hidup”, Forum Manajemen Prsetiya Mulya, no. 2, September, vol.1, 22-33.


     

 

KONSULTASI
Langkah-langkah Memulai Bisnis Awal

Oleh : Prof.Dr.Andreas Budihardjo Saya adalah seorang marketer sejati, saya selalu berhasil mencapai target yang dibebankan perusahaan terhadap saya. Akan tetapi, saya selalu ti ...
[selengkapnya]


 











HEADLINE :


  

 

 

heading

K O B I S

Wani Piro

Point of View

MENCIPTAKAN SUPERTEAM,
BUKAN SUPERMAN!

Closer With

PETINGGI YANG SELALU MERENDAH

Finance

Disiplin Administratif:
Solusi Mengelola Keuangan Bisnis Anda

Talent Behavior

Bekerja Tanpa Pemimpin Utopia atau Kekacauan?

EXPLORE

Merek-Merek Penanda Zaman Baru

Operations 

SEGITIGA EMAS

Marketing

BERBURU BANGKU PARLEMEN 2014

 
KONFLIK KEKUASAAN
 
SEDERHANA ITU...
SEMPURNA!

 
 
TERKENANG LIONTIN TANDA CINTA IBUNDA

BIZPEDIA

KEPEMIMPINAN SEBAGAI INTI MANAJEMEN

BOOK INSIGHT

David and Goliath Malcolm Gladwell
 
 
 
 
JURNAL IRJBS
 
Agustus - November 2012
 
Vol. 5 No. 2
 
 
 
 
 
 
April - Juli 2012
 
Vol. 5 No. 1
 
 
 
 
 
 
Desember 2011 - Maret 2012
 
Vol. 4 No. 3
 
 
 
 
 
 
AGUSTUS S/D NOVEMBER 2011
 
Vol.4 No.2
 
 
 
 
 
 
JURNAL IRJBS
 
April s/d Juli 2011
 
Vol. 4 No. 1
 
 
 
 
 
 

 
 JURNAL INTEGRITAS
 
Desember 2010 s/d Maret 2011

VOL. III NO. III
 
 
 
 
 
 
 
 JURNAL INTEGRITAS
 
Agustus s/d November 2010
 
VOL. III NO. II
 
 
 
 
 
 
 JURNAL INTEGRITAS
 
April s/d Juli  2010
 
VOL. III NO. I
 
 
 
 
 
 
 
JURNAL INTEGRITAS
 
DESEMBER 2009 S/D MARET 2010
 
VOL. II NO. III
 
 
 
 
 
 
 
JURNAL INTEGRITAS
 
AGUSTUS S/D NOVEMBER 2009
 
VOL. II NO. II 
 
 
 
 
 
 
JURNAL INTEGRITAS
 
APRIL S/D JULI 2009
 
VOL.II NO.I 
 
 
 
 
 
 
JURNAL INTEGRITAS
 
DESEMBER 2008 S/D MARET 2009
 
VOL.I NO.III
 
 
 
 
 
 
JURNAL INTEGRITAS
 
AGUSTUS S/D NOVEMBER 2008
 
VOL.I NO.II

Pembaruan Fungsi Keuangan Perusahaan (Oleh:Djoko Wintoro).

Membumikan Operasi Perusahaan Besar di Indonesia (Oleh:A.Prasetyantoko & Rachmadi P)

Meningkatkan Kinerja Pemasaran (Oleh:Widodo)

Indonesia Bankrputcy Law: Revisited (Oleh:Wijantini)

Predicting Credit Risks Using Sustainability Criteria into Credit Risk Management (Oleh:Teddy Oswari)

Human Resource Retention Practices (Oleh:Mohammad A. Ashraf,R.A. Masum & M.H.R. Joarder)

The Role Of Culture And Community (Oleh:Achmad Setyo Hadi)

JURNAL INTEGRITAS

MAI 2008

VOL.I NO.I 

Keragaman IdentItas dalam KomunItas Konsumen (Oleh:Eka Ardianto )

Dinamika Hubungan Perusahaan dan Komunitas Konsumen (Oleh:Yudho Hartono)

Pengujian TeorI Trade-Off dan Pecking Order (Oleh:Darminto & Adler Haymans Manurung)

Pentingnya Safety cultur di rumah sakit (Oleh:Andreas Budihardjo)

Adopting and Implementing Advanced Manufacturing Technology (Oleh:Lena Elitan)

Corporate Governance in Family Firms (Oleh:Lukas Setia-Atmaja)
 
 
 
 

buku 



Untuk melihat preview klik Cover ini!

Untuk berlangganan klik Di Sini!
 
//

Apakah informasi yang kami tampilkan sudah sesuai dengan yang anda inginkan?
      Sangat Sesuai
      Cukup Sesuai
      Kurang Sesuai




Unique Visits Today: 85
Hits Today: 558
Total Unique Visits: 81341
Total Hits: 536293
Guests Online: 2


   
   

  MENU HOME:




  MENU JOURNAL:




  MENU FORUM:


PMBS Publishing   
www.management-update.org | copyright © 2014